PENERAPAN PEMBELAJARAN IMLA’
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN TULIS AL-QUR’AN
KELAS III MI TARBIYATUS SHIBYAN GUNUNGWUNGKAL
TAHUN AJARAN 2014/2015
PROPOSAL
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Bimbingan Skripsi
Dosen Pengampu : Abd. Azis, M.Ag
Disusun Oleh :
Ngatwi :
111257
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM PATI
FAKULTAS TARBIYAH
SEMESTER VI
TAHUN AKADEMIK 2014
PENERAPAN PEMBELAJARAN IMLA’
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN TULIS AL-QUR’AN
KELAS III MI TARBIYATUS SHIBYAN GUNUNGWUNGKAL
TAHUN AJARAN 2014/2015
1.
LATAR BELAKANG
Tujuan pendidikan
secara umum adalah untuk meningkatkan kualitas bangsa Indonesia dan untuk
menjadikan bangsa Indonesia yang bermartabat serta berkompetensi dalam semua
hal.[1]
Dan tujuan pendidikan Agama Islam adalah untuk menjadikan manusia yang sempurna
( Al Insan Kamil ) yang bertaqwa kepada Allah SWT dan menjalankan semua
perintahNya dan menjauhi semua laranganNya[2].
Dengan berpadu antara tujuan pendidikan Nasional dan pendidikan Agama Islam
maka bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkualitas serta bertaqwa kepada
Allah SWT. Bangsa yang berkualitas dan yang bertaqwa kepada Allah harus mampu
memahami dalam bidang-bidang tertentu , berfikir kritis dan juga penuh
pengetahuan ilmu teknologi serta pengetahuan agama yang luas.
Al-Qur’an adalah sebagai sumber
utama kehidupan umat islam serta sebagai pegangan hidup dalam kehidupan maka
umat islam harus memahami Al-Qur’an secara komprehensih. Bukan hanya bisa
memahami kandungan dan tafsiran Al-Qur’an saja, sebagai umat islam harus bisa
bembaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar. Al-Qur’an adalah kitab suci
yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung petunjuk bagi umat
Islam demikian terdapat di dalam Al-Qur’an
terdapat keindahan bahasa, ketelitian dan kebenaran dengan kedalaman makna.
Adapun tujuan belajar Al-Qur’an adalah membaca dan menulis Al-Qur’an Sesuai
dengan kaidah Qiro’ah dan Tajwid.[3]
Usaha untuk mencapai tujuan tersebut
ditempuh system pendidikan madrasah sebagai salah satu sarannya. Di Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatus Shibyan Gunungwungkal
telah diterapkan pembelajaran Imla’ guna meningkatkan kemampuan siswa dalam
tulis Al-Qur’an, sehingga siswa dapat menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar
sesuai kaidah Tajwid. Jadi
untuk menjadikan siswa lebih mampu dalam tulis Al-Qur’an, perlu adanya
pemberian pembelajaran Imla’. Sehingga siswa mampu menulis Al-Qur’an dengan
baik dan benar secara kaidah.
2.
RUMUSAN MASALAH DAN CARA PEMECAHAN MASALAH.
a.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang
penelitian, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
“Apakah pembelajaran Imla’ dapat meningkatkan kemampuan
tulis Al-Qur’an siswa kelas III MI Tarbiyatus Shibyan Gunungwungkal “
b.
Pemecahan Masalah.
Cara pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian tindakan
kelas ini adalah penerapan metode Imla’, dengan metode ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dalam belajar tulis
Al-Qur’an siswa kelas III MI Tarbiyatus Shibyan Gunungwungkal. Alasan menerapkan
metode ini karena metode Imla’
merupakan metode yang paling baik karena melatih tulisan siswa agar terbiasa dalam
menulis tulisan Arab dan ayat-ayat Al-Qur’an, terampil menulis dalam tulisan
Al-Qur’an mengenai kejadian apa saja dalam masyarakat dan dunia internasional,
mampu menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar dan menumbuhkan rasa cinta
terhadap Al-Qur’an sehingga timbul kemauan untuk belajar dan mendalaminya.
3.
TUJUAN PENELITIAN.
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan pembelajaran Imla’ dapat meningkatkan kepampuan tulis
Al-Qur’an siswa kelas III MI Tarbiyatus Shibyan Gunungwungkal.
4.
MANFAAT PENELITIAN.
Hasil penelitian
ini dapat bermanfaat untuk :
a.
Siswa, termotivasi sehingga senang untuk
belajar Imla’ dan giat untuk meningkatkan tulis Al-Qur’an.
b.
Guru, Khususnya dalam pembelajaran Imla’,
dapat menambah ketrampilan dan wawasan dalam meningkatkan kemampuan tulis
Al-Qur’an siswa. Selain itu, untuk menambah pengalaman guru dalam penelitian.
c.
Madrasah, khususnya untuk meningkatkan mutu
pendidikan di Madrasah ibtidaiyah Tarbiyatus Shibyan Gunungwungkal.
5.
KERANGKA TEORITIK.
a.
Pembelajaran Imla’.
1) Pengertian imla’.
Imla’
berarti talqin yaitu menyampaikan atau mendiktekan kepada orang lain
dengan suara keras agar dia memindahkan secara baik dan benar dari segi bahasa
dan pempelajarinya.[4]
Imla’ adalah pelajaran yang melatih siswa untuk dapat menulis
dengan benar dari apa yang di dengar dan diketahui dengan menggunakan bahasa
arab. Tujuan imla’ adalah agar siswa mampu menulis dengan benar dan betul,
melatih panca indra, melatih konsentrasi dan tenang, rajin dan tertib waltu.[5]
2) Manfaat pembelajaran imla’.
Pelajaran
imla’ memiliki kegunaan praktis maupun pedagogis. Secara praktis siswa dapat
menulis berbagai kalimah (kata) dengan benar, jika terjadi salah tulis makamembaca akan mengalami kebingungan apa
yang dimaksud. imla’ (dikte) bisa
melatih mata, telinga dan tangan untuk memperhatikan, mendengarkan serta
menulis dengan benar. Mata wajib dilatih untuk mengamati atau meneliti berbagai
kalimah, bahkan sampai yang rumit dan mendetail sehingga tergores dalam benak. Tangan
perlu mendapat latihan kecekatan menulis dengan lancar, benar dan tepat,
demikian pula telinga agar dibiasakan mendengarkan ucapan-ucapan yang
fasih.Ucapan yang fasih dapat diwujudkan dalam tulisan yang bebar.Imla’dapat
digunakan sebagai alat bantu pelajaran Insya, dimana mereka dapat
mengekspresikan kalmat-kalimat indah. Hal itu memungkinkan sekali jika guru
dapat memilih maudu’ yang bagus. Dengan Imla’ siswa akan memperoleh cakrawala
pengetahuan Bahasa Arab secara luas. Imla’secara pedagogis dapat melatih
kemampuan menghafal, mengingat, menumbuhkan kejelian dan ketelitian, mendidik
kebebasan berfikir dan berpendapat, membiasakan siswa menjaga kebersihan dan
keteraturan.[6]
3) Kedudukan imla’.
Para ahli bahasa bersepakat bahwa imla’ memiliki kedudukan yang sangat
besar diantara cabang-cabang ilmu bahasa, karena ia merupakan dasar yang
penting dalam mengungkapkan bahasa lewat tulisan.[7]
Jadi menurut penulis dapat di simpulkan bahwa imla’ adalah metode pembelajaran
bahasa arab yang berguna untuk melatih istima’, muhadasah, qiro’ah, kitabah.
4) Tata cara Menggunakan Metode Imla’
a)
Jika imla’ dengan cara
menuliskan di papan tulis, maka tulisan hendaknya rapi dan terang, yang dapat
dibaca oleh semua anak didik.
b)
Dan kalau imla’ dilakukan
dengan cara guru membacakan, maka hendaknya bacaan imla’ dibacakan dengan suara
yang lantang (terang), jangan terlalu lembek sehingga tidak diengar siswa yang
duduk di belakang. Jadi bacakanlah acara pelajaran imla’ tersebut dengan tenang
tidak tergesa-gesa .
c)
Guru janganlah memulai acara
imla’, jika suasana kelas belum ditertibkan, sehingga siswa benar-benar dalam
keadaan siap menerima imla’ yang akan disajikan.
d)
Mulailah acara imla’ jika
siswa telah dalam keadaan siap, bacakanlah secara terang dan pelan.
e)
Adakanlah soal jawab dan
diskusi mengenai materi imla’ tersebut kepada siswa dan mejelaskan maksud dari
padanya.
f)
Mengadakan evaluasi / post
test.
b.
Kemampuan siswa.
1)
Pengertian
kemampuan.
Kemampuan
berasal dari kata mampu yang berarti kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu,
sedangkan kemampuan berarti kesanggupan, kecakapan, kekuatan (Tim Penyusun
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989: 552-553).Kemampuan (ability) berarti
kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan.[9]
Dari
pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah
kesanggupan atau kecakapan seorang individu dalam menguasai suatu keahlian dan
digunakan untuk mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan.
2) Macam-macam kemampuan.
Stephen
P. Robbins & Timonthy A. Judge (2009: 57-61) menyatakan bahwa kemampuan
keseluruhan seorang individu pada
dasarnya terdiri atas dua kelompok faktor, yaitu :
a. Kemampuan Intelektual (Intelectual
Ability), merupakan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai
aktifitas mental (berfikir, menalar dan memecahkan masalah).
b) Kemampuan Fisik (Physical Ability),
merupakan kemampuan melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, ketrampilan,
kekuatan, dan karakteristik serupa.
c.
Tulis Al-Qur’an.
1). Pengertian Tulis.
Kata
“tulis” berarti batu atau papan batu tempat menulis (dahulu banyak dipakai oleh
siswa-siswa sekolah), kemudian kata “tulis” ditambah akhiran “an” maka menjadi
kata “tulisan” (akan lebih mengarah kepada usaha memberikan pengertian dari
baca tulis Alquran) maka tulisan berarti hasil menulis.[10]
2). Pengertian Al Qur’an.
Kata “Al-Qur’an” menurut bahasa
artinya bacaan sedangkan menurut istilah adalah mukjizat yang diturunkan oleh
Allah kepada Nabi Muhammad Saw sebagai sumber hukum dan pedoman bagi pemeluk
ajaran agama Islam, jika dibaca bernilai ibadah.[11]
Allah
berfirman yang artinya :
Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu
semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka
berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada
Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya
kamu mendapat petunjuk". (QS.al-a’raf: 158).
Dari
pengertian di atas dapat penulis uraikan dengan lebih terinci, bahwa Alquran
adalah firman Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara
mutawatir dan berangsur-angsur, melalui malaikat Jibril yang dimulai dengan
surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas dan membacanya bernilai
ibadah.
Dari uraian di atas dapat
dirumuskan suatu pengertian bahwa tulis Al-Qur’an adalah suatu kemampuan yang
dimiliki untuk menuliskan kitab suci Al-Qur’an. Berangkat dari pengertian
tersebut, maka terdapatlah gambaran dari pengertian tulis Al-Qur’an tersebut,
yaitu diharapkan adanya kemampuan yaitu menulis bagi obyek yang diteliti. Sebab
kemampuan tersebut berpengaruh kepada prestasi belajar bahasa Arab.
d.
Meningkatkan kemampuan tulis Al Qur’an siswa
melalui penerapan pembelajaran imla’.
Kemahiran
menulis merupakan salah satu jenis kemampuan yang ingin dicapai dalam
pengajaran tulis Al Qur’an. Mengingat pentingnya fungsi Al Qur’an sebagai
pedoman hidup muslim, maka pembelajaran menulis Al Qur’an menjadi sangat
penting. Karena menulis merupakan salah satu keterampilan yang digunakan dalam
mengetahui ayat ayat yang terkandung dalam Al Qur’an, siswa masih banyak
menemukan kesulitan dalam pembelajaran tulis Al Qur’an. Penyebab kesulitan yang
dihadapi siswa antara lain karena kebanyakan dari siswa berasal dari latar
belakang yang tidak mengenal Al Qur’an yang belum mengecap Al Qur’an dan belum pernah membacanya . Oleh karena
itu, perlu ada alternatif metode yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk
mengungkapkan gagasan atau pikiran melalui tulisan. Salah satunya adalah
penerapan metode Imla’. guru berperan sebagai fasilitator serta motivator.
Pembelajaran didesain menarik melalui variasi teknik pembelajaran. Sehingga
siswa mudah dalam pembelajaran menulis Al Qur’an .
6. HIPOTESIS TINDAKAN.
“ Jika pembelajaran Imla’ diterapkan maka
dapat meningkatkan kemampuan tulis Al-Qur’an siswa kelas III MI Tarbiyatus
Shibyan Gunungwungkal ”.
7. PROSEDUR PENELITIAN.
a. Deskriptif singkat tempat penelitian.
MI Tarbiyatus Shibyan Gunungwungkal
terdapat di Desa Gunungwungkal Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati Propinsi
Jawa Tengah, berada di daerah pusat kota Kecamatan Gunungwungkal dengan Jarak
kurang lebih 1 km dari pusat kota. Dilihat dari tahun pendiriannya, Madrasah
Ibtidaiyah Ini termasuk sekolah baru yang baru meluluskan dua angkatan alumni,
dan beberapa alumnus meneruskan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
Tenaga pendidik dan kependidikan berjumlah
10 orang. Dari 10 orang diantaranya 1 orang Kepala Madrasah, 3 orang guru
agama, 4 orang guru umum, dan 2 orang tata usaha. Guru agama yang menjadi
patner dalam penelitian ini adalah dua orang.
Alamat
MI Tarbiyatus Shibyan Gunungwungkal berada di Jl. Gunungwungkal-Tayu Km 01
Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati.
b. Variabel Yang Diselidiki.
Variabel yang diselidiki adalah :
1. Proses kegiatan pembelajaran yang meliputi
kegiatan membuka pelajaran, kegiatan lapangan, dan evaluasi.
2. Tes awal dilakukan sebelum pembelajaran
dimulai.
3. Ter akhir dilakukan setelah pembelajaran.
4. Data pendukung berupa aktivitas guru dan
siswa dalam bentuk catatan lapangan.
c. Rencana Tindakan.
Penelitian ini direncanakan mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut :
1) Orientasi lapangan ( penelitian Awal ).
a)
Observasi kondisi lingkungan MI Tarbiyatus Shibyan Gunungwungkal.
b)
Observasi dan evaluasi terhadap pembelajaran imla’ untuk memperoleh
gambaran pelaksanaan pembelajaran.
c)
Mengidentifikasi masalah.
2) Tahap Persiapan.
a) Merancang metode PTK untuk mencari alternative
tindakan pemecahan kelas.
b)
Merancang model pembelajaran.
c)
Menyusun soal tes awal dan lembar kerja siswa.
d)
Mengungkapkan konsepsi awal mengenai siswa melalui hasil tes awal dan
mengungkapkan fenomena yang ingin diketahui siswa berhubungan dengan topic.
3) Tahap Pelaksanaan.
a)
Guru memberi pembelajaran tentang metode imla’.
b)
Guru memberi tes akhir kepada
siswa guna mengetahui kemampuan siswa setelah menerima pembelajaran.
c) Guru menilai hasil tes akhir .
4) Tahap Evaluasi.
a)
Guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang
telah dilaksanakan.
b)
Penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.
5) Analisis Data.
a)
Merinci dan menganalisis kendala-kendala saat pelaksanaan pembelajaran.
b)
Menganalisis hasil pembelajaran siswa, pencapaian yang disyaratkan.
c)
Menentukan tindak lanjut, dengan menyusun dan memperbaiki rencana
selanjutnya berdasarkan analisis pada pelaksanaan tindakan.
6) Cara Analisis Data.
Data yang diperoleh dalam penelitian
ini secara umum dianalisis melalui deskriptif kualitatif.Analisis data
dilakukan pada tiap data yang dikumpulkan, baik data kualitatif maupun
kuantitatif. Data kuantitaif dianalisis dengan menggunakan cara kuantitatif
sederhana, yakni presentasi, dan data kualitatif dianalisis dengan membuat
penilaian kuantitatif (kategori).
Menurut
Hopkins ( dalam Wadiasih 1997 ), bahwa dalam menganalisis data penilaian
tindakan kelas diperlukan beberapa tahab berikut :[12]
a)
Kategori Data.
Data yang diperoleh peneliti, siswa,
guru dan kepala sekolah disusun menjadi 3 kategori tertentu untuk memudahkan
analisis yaitu tes pemahaman ( konsep, proses, dan aplikasi konsep ).
b)
Validasi Data.
Data yang diperoleh agar objektif, valid,
dan reliable maka dilakukan teknik triangulasi dan saturasi yaitu dengan melakukan
beberapa tindakan, yaitu :
(1). Menggunakan cara yang bervariasi untuk
memperoleh data yang sama, missal untuk menilai hasil belajar dengan tes
tertulis dan wawancara.
(2). Menggali data yang sama dari sumber
yang berbeda, dalam penelitian ini ada 4 sumber yaitu guru, siswa, peneliti dan
kepala sekolah.
(3).Melakukan pengecekan ulang dari data
yang telah terkumpul untuk kelengkapannya.
(4).
Melakukan pengolahan dan analisis ulang dari data yang terkumpul.
(5). Mempertimbangkan pendapat ahli, dalam
penelitian ini yang menjadi tenaga ahli adalah kepala sekolah.
c)
Interpretasi Data.
Data
yang telah dilakukan disusun diinterpretasikan derdasarkan teori atau aturan
yang disepakati atau intuisi peneliti untuk menciptakan pembelajaran yang
kondusif sebagai acuan dalam melakukan tindakan selanjutnya.
7)
Indikator
Kinerja.
Penelitian
tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila:
a)
Meningkatnya
hasil belajar muatan lokal BTA siswa kelas III MI Tarbiyatus
Shibyan Gunungwungkal Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2014/2015 setelah melakukan tindakan dengan menggunakan penerapan pembelajaran
imla’ pada mata pelajaran muatan lokal BTA
. Dan rata-rata siswa yang mendapatkan nilai tersebut
adalah 80 %
b)
Adanya
peningkatan keaktifan belajar siswa pada proses pembelajaran
BTA setelah melakukan tindakan
dengan menggunakan penerapan pembelajaran imla’
pada kategori baik dan baik sekali yang mencapai 80%.
8)
Sistematika Penulisan .
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang ( Deskripsi masalah, data awal yang mendukung adanya
masalah )
2.
Rumusan Masalah.
3.
Tujuan Penelitian.
4.
Manfaat Penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini penulis mengemukakan teori dan pustaka yang relevan, dan
memberi arah serta petunjuk pada pelaksanaan PTK. Dan pada akhir bab ini dapat
dikemukakan hipotesis tindakan.
BAB III
METODE PENELITIAN
Deskriptif tiap siklus penelitian
yang memuat : rencana, pelaksanaan/tindakan, pemantauan dan evaluasi beserta
jenis instrumen yang digunakan dan cara refleksi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Menyajikan uraian untuk masing-masing siklus dengan data lengkap,
menyangkut berbagai aspek yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Disajikan simpulan hasil penelitian sesuai dengan tujuan/masalah
penelitian yang telah disampaikan sebelumnya. Saran tindak lanjut berdasarkan
simpulan yang diperoleh baik yang menyangkut segi positif maupun negatif.
DAFTAR PUSTAKA
UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, bab 2 pasal 3
Depag RI, Pendidikan Agama Islam.
Yusuf
Al-Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, Gema Insani Press.
Ulfa Susilowati ,Menejemen Mutu
Pembelajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi (Salatiga :Stain Salatiga
Press,2009)
Fachrudin,Metodologi
Pelajaran Bahasa Arab (Salatiga:Stain Salatiga press,2006)
Tim Penyusun Kamus Besar
Bahasa Indonesia, 1989.
Mudzakir
AS,Studi ilmu-ilmu qur’an. Jakarta : PT.Pustaka litera antarnusa, 2000.
[1] UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, bab 2 pasal 3
[2]Depag RI, Pendidikan Agama Islam, 15.
[3]Yusuf Al-Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, Gema Insani
Press,8.
[5]Susilowati,Ulfa,Menejemen Mutu Pembelajaran Bahasa Arab di
Perguruan Tinggi (Salatiga :Stain Salatiga Press,2009)
[11]Mudzakir AS,Studi ilmu-ilmu qur’an. Jakarta : PT.Pustaka
litera antarnusa, 2000.11
[12]Alam Hamdani, Nizar, Classroom Action Research, Rahayasa,2008,108.
<script data-ad-client="ca-pub-7632944160334815" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script data-ad-client="ca-pub-7632944160334815" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
No comments:
Post a Comment